Sabtu, 04 Mei 2013
Sabtu, 09 Maret 2013
Gus Karim Uraikan Kisah Jelang Kelahiran Nabi
Gelaran 12 malam Jamuro (Jamaah Muji Rosul) Surakarta, telah
memasuki malam ke-4. Setelah tiga malam sebelumnya diselenggarakan di luar
Solo, tadi malam (15/1) acara dzikir dan solawat tersebut kembali diadakan di
Solo, tepatnya di kediaman keluarga H Hardono Manahan Solo.
Cuaca yang cukup bersahabat, menambah semangat ribuan jamaah untuk bisa hadir dalam acara tersebut. Usai pembacaan kitab maulid al-Barzanjiy, KH Abdul Karim Ahmad Mustofa menjelaskan bab tentang masa menjelang kelahiran Nabi Muhammad saw. Selama pelaksanaan 12 hari Jamuro, beliau menjelaskan per bab (athiril) bacaan yang ada di kitab karya Sayyid Ja’far Al-Barzanji ini.
“Menjelang pemindahan Nur Nabi Muhamamd saw, tumbuh-tumbuhan, hewan, jin dan segenap makhluk merasa gembira. Sebab sebentar lagi akan lahir sang rahmatan lil alamin.” Kata kiai yang akrab disapa Gus Karim ini.
Tahun pemindahan nur kenabian ke dalam kandungan dinamakan sanatul fathi wal ibtihaj (tahun pembukaan dan kegembiraan). Tahun itulah bumi yang telah lama kering seketika ditumbuhi tumbuh-tumbuhan seperti hamparan sutra. Buah-buahan menjadi masak, dahannya melengkung sehingga memudahkan orang yang ingin memetiknya.
Pengasuh Pesantren Al-Qur’any Az-zayyady itu kemudian melanjutkan, menjelang detik-detik kelahiran nabi saw, “Lalu datanglah dua perempuan, yakni Siti Maryam dan Siti Asiyah kepada Siti Aminah, Ibu Nabi saw.”
Maryam menenangkan Siti Aminah bahwa yang akan ia lahirkan ini lebih utama dari putranya, Nabi Isa as. Sedangkan Siti Asiyah juga menguatkan Siti Aminah, bahwa yang dialaminya ini merupakan sebuah anugerah yang luar biasa dari Allah swt. Sampai pada keterangan tersebut, beliau mengakhiri ceramahnya.
Ceramah beliau akan kembali dilanjutkan pada pergelaran Jamuro pada malam berikutnya, Rabu (16/1), yang akan diadakan di Masjid Agung Surakarta.
Cuaca yang cukup bersahabat, menambah semangat ribuan jamaah untuk bisa hadir dalam acara tersebut. Usai pembacaan kitab maulid al-Barzanjiy, KH Abdul Karim Ahmad Mustofa menjelaskan bab tentang masa menjelang kelahiran Nabi Muhammad saw. Selama pelaksanaan 12 hari Jamuro, beliau menjelaskan per bab (athiril) bacaan yang ada di kitab karya Sayyid Ja’far Al-Barzanji ini.
“Menjelang pemindahan Nur Nabi Muhamamd saw, tumbuh-tumbuhan, hewan, jin dan segenap makhluk merasa gembira. Sebab sebentar lagi akan lahir sang rahmatan lil alamin.” Kata kiai yang akrab disapa Gus Karim ini.
Tahun pemindahan nur kenabian ke dalam kandungan dinamakan sanatul fathi wal ibtihaj (tahun pembukaan dan kegembiraan). Tahun itulah bumi yang telah lama kering seketika ditumbuhi tumbuh-tumbuhan seperti hamparan sutra. Buah-buahan menjadi masak, dahannya melengkung sehingga memudahkan orang yang ingin memetiknya.
Pengasuh Pesantren Al-Qur’any Az-zayyady itu kemudian melanjutkan, menjelang detik-detik kelahiran nabi saw, “Lalu datanglah dua perempuan, yakni Siti Maryam dan Siti Asiyah kepada Siti Aminah, Ibu Nabi saw.”
Maryam menenangkan Siti Aminah bahwa yang akan ia lahirkan ini lebih utama dari putranya, Nabi Isa as. Sedangkan Siti Asiyah juga menguatkan Siti Aminah, bahwa yang dialaminya ini merupakan sebuah anugerah yang luar biasa dari Allah swt. Sampai pada keterangan tersebut, beliau mengakhiri ceramahnya.
Ceramah beliau akan kembali dilanjutkan pada pergelaran Jamuro pada malam berikutnya, Rabu (16/1), yang akan diadakan di Masjid Agung Surakarta.
Berikut MP3nya : KH Abdul Karim Mustofa hikmah mengikuti ulama : Dowload
Dialog Agama Islam berbagai masalah agama ustad Hasan Basri
Kajian tetntang Kitab Maulid albarjaji bersama Gus Karim ke 9
Jamuro_ke_10 bersama Gus Karim
Gus_Karim_Ceramah tentang maulid jamuro ke 11
Sejarah Maulid ke 13 KH_Sony_Parsono_Jamur
Jamuro_13_Gus_karim_
Kajian Maulid ke 14 umat nabi muham tdk kekal di Neraka
Gus Karim sejara kehidupan siti maryan dan nabi isa AS
Dialog Agama Islam berbagai masalah agama ustad Hasan Basri
Kajian tetntang Kitab Maulid albarjaji bersama Gus Karim ke 9
Jamuro_ke_10 bersama Gus Karim
Gus_Karim_Ceramah tentang maulid jamuro ke 11
Sejarah Maulid ke 13 KH_Sony_Parsono_Jamur
Jamuro_13_Gus_karim_
Kajian Maulid ke 14 umat nabi muham tdk kekal di Neraka
Gus Karim sejara kehidupan siti maryan dan nabi isa AS
Biografi KH. Marzuki Mustamar
Biografi KH. Marzuki Mustamar; Singa Pembela Ahlussunnah dari Malang
Penampilannya
Penampilan beliau sederhana dan apa adanya. Beliau tidak pernah neko-neko. Karena begitu sederhananya, kadang orang tidak mengira bahwa beliau adalah seorang kyai. Di balik kesederhanaan beliau tersimpan lautan ilmu yang begitu luas. Kiprah beliau di masyarakat sudah tidak diragukan lagi. Gaya bicara beliau yang tegas dan lugas menjadi salah satu ciri khas beliau.
Rajin Ngaji Sejak Kecil
Kyai Marzuki lahir di kota Blitar, 43 tahun yang lalu. Sungguh beruntung Kyai Marzuki karena dilahirkan dalam keluarga yang taat beribadah sekaligus mengerti agama. Ya, abahnya adalah seorang kyai. Alhasil, sejak kecil Kyai Marzuki dibesarkan dan dididik oleh kedua orang tua beliau dengan disiplin ilmu yang tinggi. Di bawah pengawasan orang tua beliau inilah putra dari Kyai Mustamar dan Nyai Siti Jainab ini mulai belajar al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama.
Selain dididik disiplin ilmu yang tinggi, ternyata beliau waktu kecil sudah dididik tentang kemandirian agar memiliki etos kerja yang tinggi dengan cara memelihara kambing dan ayam petelur milik Bu Lik Umi Kultsum. Dengan memelihara kambing dan ayam petelur inilah, beliau mendapat pelajaran bagaimana membimbing umat islam, dan bagaimana menjadi pemimpin.
Kamis, 07 Maret 2013
ADZAN
Adzan merupakan panggilan bagi umat Islam untuk memberitahu masuknya salat fardu. Dikumandangkan oleh seorang muadzin setiap salat 5 waktu. Lafadz adzan terdiri dari 7 bagian:
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ.
أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ. أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ.
حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ
حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.
لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ
Allah Maha Besar, Allah Maha BesarAku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah
Rabu, 06 Maret 2013
Angin dan Awan
“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) ….
Para ilmuwan menemukan bahwa angin memiliki peran besar
dalam pembentukan awan, dialah yang mendorong uap air dan
partikel-partikel debu, yang bertindak sebagai penggerak partikel, dan
setiap partikelnya memiliki jutaan tetesan-tetesan kecil untuk membentuk
satu tetesan air, lalu angin berperan menggerakkan awan sehingga
turunlah hujan. Hal ini sesuai dengan yang diisyaratkan dalam Al-Quran
sejak beberapa abad yang lampau. Allah berfirman:
وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ فَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ وَمَا أَنْتُمْ لَهُ بِخَازِنِينَ
“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya”. (Al-Hijr:22)
![]() |
| Ayat ini mengajak orang beriman untuk merenungkan kebesaran Sang Pencipta; Allah yang Maha Kuasa. |
Abu Nawas : Tokoh Sufi Dalam 1001 Malam
Ilahi,
lastu lilfirdausi ahla.
Wala aqwa ‘ala naril jahimi
Fahab li tawbatan waghfir dzunubi.
Fainaka ghafirud dzanbil adzimi
Wala aqwa ‘ala naril jahimi
Fahab li tawbatan waghfir dzunubi.
Fainaka ghafirud dzanbil adzimi
Artinya:
Tuhanku, Hamba tidaklah pantas menjadi penghuni surga (Firdaus).
Namun, hamba juga tidak kuat menahan panas api neraka.
Tuhanku, Hamba tidaklah pantas menjadi penghuni surga (Firdaus).
Namun, hamba juga tidak kuat menahan panas api neraka.
Maka
berilah hamba tobat dan ampunilah hamba atas dosa-dosa hamba.
Karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Mahaagung
Karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Mahaagung
Dua bait
syair di atas tentu sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia terutama
kaum tradisionalis Islam. Beberapa saat menjelang shalat Magrib atau Subuh,
jemaah di masjid-masjid atau musala di pedesaan biasanya mendendangkan syair
tersebut dengan syahdu sebagai puji-pujian. Konon, kedua bait tersebut adalah
hasil karya tokoh kocak Abu Nawas. Ia adalah salah satu penyair terbesar sastra
Arab klasik. Abu
Langganan:
Postingan (Atom)





