Ilahi,
lastu lilfirdausi ahla.
Wala aqwa ‘ala naril jahimi
Fahab li tawbatan waghfir dzunubi.
Fainaka ghafirud dzanbil adzimi
Wala aqwa ‘ala naril jahimi
Fahab li tawbatan waghfir dzunubi.
Fainaka ghafirud dzanbil adzimi
Artinya:
Tuhanku, Hamba tidaklah pantas menjadi penghuni surga (Firdaus).
Namun, hamba juga tidak kuat menahan panas api neraka.
Tuhanku, Hamba tidaklah pantas menjadi penghuni surga (Firdaus).
Namun, hamba juga tidak kuat menahan panas api neraka.
Maka
berilah hamba tobat dan ampunilah hamba atas dosa-dosa hamba.
Karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Mahaagung
Karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Mahaagung
Dua bait
syair di atas tentu sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia terutama
kaum tradisionalis Islam. Beberapa saat menjelang shalat Magrib atau Subuh,
jemaah di masjid-masjid atau musala di pedesaan biasanya mendendangkan syair
tersebut dengan syahdu sebagai puji-pujian. Konon, kedua bait tersebut adalah
hasil karya tokoh kocak Abu Nawas. Ia adalah salah satu penyair terbesar sastra
Arab klasik. Abu